Tampilkan postingan dengan label sholat dhuhha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sholat dhuhha. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Oktober 2013

BERGANTUNG PADA KEAJAIBAN ALLAH

Bergantung pada keajaiban Allah.
Bergantung pada keajaiban Allah.  
 
Bismillairromannirrohim,,
Assalammualaikum semuanya. Kembali lagi rinzay disini menulis keajaiban yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari , yang terkadang disepelekan oleh rinzay dahulu. Tapi, sekarang terbukti! Kemudahan dan keajaiban yang Rinz alami , ternyata itu keajaiban Allah. Begini ceritanya:

1. Bingung atas biaya pernikahan
Add caption
 Menikah adalah salah satu sunnah Nabi. Dan hukumnya tergantung kondisi kita. Bisa wajib, sunnah, mubah, makruh atau boleh. Saat itu adalah masa yang menyenangkan bagi saya. Kenapa tidak? Saya merupakan wanita lajang yang mempunyai penghasilan lumayan dari mengajar bimbel dan menjual kue kering dan juga coklat. Hari -hari saya diisi dengan mengajar, berjualan, dan membaca buku di tempat buku favorit saya, Gramedia. Lalu tiba-tiba datanglah sosok pria ini. Pria yang kurang banget dari kriteria yang saya tetapkan sebagai suami.{sombongnya saya ya? jangan ditiru!!}
        Well, menjadi seorang jilbaber yang mandiri kadang membuat saya sombong dan merasa tidak memerlukan pria. Namun Allah meng-KO saya. Karena pria ini tidak masuk dalam kriteria saya{ cakep, kaya, soleh,suka membaca, suka jalan-jalan, suka makan!} maka dengan hati hangat saya menolaknya. Tapi ternyata, pria yang tidak masuk dalam kriteria saya ini adalah pria yang paling gigih mendekati saya dibandingkan pria yang masuk dalam kriteria. Pendekatannya pada keluarga lambat laun membuat saya terkesan. Akhirnya , saya menerimanya dan kami pun bertunangan. Orangtua kami mulai menghitung tanggal yang pas untuk pernikahan. Dan ternyata, tanggal itu merupakan tanggal disaat kantong kami berdua tongpes, pes, pes!
      Pokoknya biaya pernikahan sederhana saat itu sekitar 10 jutaan. Dan Allah menakdirkan tabungan saya hilang!Ibu saya sakit darah tingginya kumat. Dan tunangan saya itupun ternyata adalah tulang punggung keluarganya. Ibunya tiba-tiba sakit dan butuh biaya berobat. Kedua adiknya butuh biaya masuk sekolah dan seragam dan alat-alat tulis yang mencapai 3 jutaan. Tabungannya yang dititipkan pada salah satu pamannya juga raib dibawa kabur! Waduuuh, saat itu ada kepikiran deh, apa Allah ridho dengan pernikahan ini? Kalau ridho, kok ujiannya membabi-buta seperti ini? Tapi untung saat itu saya udah jadi muridnya Ustad Yusuf Mansyur. Semua ujian dari Allah itu saya jadikan pelajaran . Saya ber-husnudzon saja. Kemudian saya ingat, jiak kita ingin dicukupkan Allah, maka bersedekahlah! Maka, gaji saya bulan itu saya sedekahkan pada anak-anak yatim. Beberapa peralatan untuk membuat kue kering dan coklat saya hibahkan pada remaja mesjid untuk belajar berwirausaha.  Saya tidak menunggu-nunggu balasan. Soalnya saya yakin Allah akan membantu melancarkan urusan saya, bagaimanapun susah dan berbelitnya.
      Alhamdulillah, kemudian orangtua saya mendapat pinjaman entah dari siapa, sebesar 5 juta. Tunangan saya pun kemudian mendapat angpao dari saudara dan teman-temannya yang kalau dijumlahkan sekitar 5 jutaan. Dan saya ajaibnya, banyak mendapat orderan bekam dan pijat{ keahlian saya selain menulis cerita, menyanyi, makan, hehehe}yang kalau dijumlahkan, sekitar 3 jutaan.
      Lalu alhamdulillah, menikahlah kami. Sampai saat ini, kadang-kadang saya geleng-geleng kepala. Sebelum menikah banyak banget jalan Allah memberikan rezekinya, contohnya dari bekam dan pijat. Setelah menikah, hanya sekali dua kali orang yang minta dipijat. Hal itu terjadi karena saya ikut pindah bersama suami saya,  di Depok.
 
2. Laptop



Add caption

    Sebagai seorang istri, saya haruslah patuh pada suami. jadi ketika saya ingin bekerja untuk mengisi waktu, suami saya tidak setuju. Jika suami berkata tidak maka saya harus patuh. Maka pekerjaan saya di rumah adalah bersih-bersih rumah, mencuci baju, memasak, tidur, mijitin suami, dll. Setelah beberapa lama, ternyata jenuh juga! Ya iyalah! Saya yang dulunya mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, kini harus diam di rumah dan menunggu untuk melayani suami. Jadi saya meng-eksplore kembali hobby menulis saya. Saya bergabung dengan beberapa komunitas menulis. Karenanya saya butuh laptop! Besar sekali hasrat saya untuk memilki lptop, sampai-sampai saya minta di doain sama Mbak Asma Nadia yang waktu itu sedang umroh. Di akun fb-nya Darwis Tereliye, sya juga minta didoakan biar dapt laptop. Ada yang merespon doa saya, katanya, penulis tugasnya menulis, bukan mengetik!! Gubrakk!! Di tiap komunitas pun saya minta didoakan agar bisa memiliki laptop, entah darimana caranya. Beberapa kali saya mengikuti lomba menulis yang hadiahnya berupa laptop atau netbook, tapi alhamdulillah, tidak pernah menang. Dan suami saya? Karena ada beberapa cicilan, suami saya belum bisa membelikan laptop buat saya. Saya tidak patah semangat. Saya  yakin, Allah menurunkan rezeki buat saya lewat banyak jalan. Bukan hanya lewat suami saja. Lalu kembali saya giat bersedekah dan sholat dhuha dan tahajud semampu saya. Beberapa bulan saya jalani amalan dari Al-Quran itu. Apakah berhasil? Ternyata setelah itu Allah menguji saya. Suami saya dikagumi banyak wanita. Dan terjadilah persahabatan yang erat via facebook. Hari-harinya selain bekerja dihabiskannya di warnet. Bukan hanya dengan satu wwanita, tapi sekaligus 5 wanita!!  luar biasa ! Saya marah dan sedih. Marah karena waktu suami saya lebih bisa menghabiskan waktu berselancar ria di dunia maya dibanding mengabiskan waktunya bersama saya. Dan saat itu saya menyerahkan rasa sakit saya pada Allah. Toh Allah yang memberi ujian ini. Ibu saya mungkin memiliki insting tentangsaya . Ibu saya kemudian datang ke Depok untuk berlibur. Kesibukannya mengurus cucu dan warung ecil membuat darah tingginya naik lagi. Akhirnya ibu berencana menginap di rumah kontrakan kami. Dan ternyata, ibu saya membawa laptop adik sebagai pengisi waktu. Selama di rumah, ibu saya nyantai sekali. Waktu-waktunya diisi dengan sholat dan main game Feeding Frenzy. Lalu tibala saatnya ibu pulang. Ibu saya berpesan, kalau menikah itu pasti banyak liku-likunya. Saya harus sabar, tawakal dan berserah diri pada Allah. Saya mengangguk. Kemudian ibu menyerahkan laptop kepada saya, terus bilang," Nih pake laptopnya. Biar tidak nganggur di rumah. Daripada ke warnet."
Saya tertegun. Aihhhhh, Allah mengabulkan doa saya lewat liku-liku ujiannya. Setelah hati saya berdarah dan patah meratapi keisengan suami saya, ternyata kesedihan itu adalah awal kegembiraan saya. Akhirnya, alhamdulillah, saya memiliki laptop. Memang statusnya adalah pinjaman, tapi tetap saja. Saya pergunakan laptop itu sampai sekarang. Alhamdulillah. Cukup dua cerita dulu ya keajaiban yang terjadi dalam keseharian saya. Nanti saya akan lanjutkan dengan cerita lainnya. Tapi insyaallah, saat ini, saya semakin yakin pada Allah. Bagaimana dengan anda?{rinzaypenuliscerpen/06102013/foto copyrigt dari blog poetrafoto wedding photographer jogjamoslemweddingdan foto laptop adla foto laptop accer dari web computer}