Jumat, 21 Maret 2014

CINTA YANG MENDEWASAKAN



Siapa bilang anak mesjid tidak bisa konyol? Walaupun anak mesjid identik dengan suasana religius, ada kalanya mereka juga mengalami cerita konyol yang membuat malu. Namun, setelah beberapa tahun kemudian, cerita-cerita memalukan itu berubah menjadi kenangan indah yang menjadi inspirasi membuat cerpen.
Ini cerita tentang aku, sepuluh tahun yang lalu.

                          CINTA  YANG MENDEWASAKAN
Aku dan teman-temanku menjadi panitia Mesjid Habiburrahaman. Panitia disini mencakup banyak acara. Misalnya pada saat Lebaran, kami bertugas membagi-bagikan kantong plastik hitam sebagai tempat sandal bagi jamaah yang hendak melaksanakan sholat Ied. Pada Hari Idul Adha, kami menjadi tukang timbang daging, tukang menguliti dan banyak lagi. Namun ada satu cerita cinta yang kalau dikenang sekarang itu adalah cerita yang membuatku dewasa. Bukan hanya mendewasakan, tapi juga konyol, karena saat itu aku melakukan hal-hal yang dianggap kurang pantas bagi seorang jilbaber.
 Kami menjadi panitia Itikaf di Mesjid Habiburrahman. Itikaf artinya berdiam diri di mesjid untuk menjalankan ibadah sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini dicontohkan Rasulullah saw sendiri. Jika 10 hari terakhir Ramadhan tiba, beliau akan lebih banyak beribadah, lebih banyak membaca Al-Quran, dan tidak berhubungan badan dengan istri-istrinya. Itikaf juga bertujuan untuk mengharapkan Lailatul Qadar, malam yang berkah yang lebih mulia daripada seribu bulan.  Pada malam itu Allah akan mengampuni setiap orang yang meminta ampun, akan mengabulkan doa setiap orang yang berdoa, dan akan memuliakan orang yang memohon kepadaNya. Karena itulah banyak orang beritikaf di mesjid untuk mendapatkannya. Tugas kami  sebagai panitia Itikaf adalah mengurus kebutuhan makanan berbuka dan makanan saat sahur. Selain itu juga kami harus membangunkan para jamaah dan mengatur pengambilan air wudhu. 
  Seperti biasa, panitia perempuan bertanggungjawab pada jamaah perempuan. Kami membuat batas antara jamaah laki-laki dan perempuan, agar para jamaah yang hendak melaksanakan itikaf tidak bercampur sehingga menimbulkan virus merah jambu yang mengganggu pelaksanaan ibadah. Tapi seperti pepatah, manusia hanya bisa berusaha, Tuhan juga yang menentukan. Virus merah jambu  itu terjadi padaku.


Sebagai seorang jilbaber, aku berusaha menjaga tingkah lakuku agar selalu sopan. Namun memang aku agak bandel. Jika melihat sesuatu yang lucu, spontan aku akan tertawa terbahak-bahak,  tanpa mengingat bahwa aku ini jilbaber. Hal yang paling parah adalah dimana aku jatuh cinta kepada Ketua Panitia Itikafku sendiri, yaitu  Kang Mulky. Ini adalah cinta pertamaku ketika aku sudah mengenakan kerudung.
Kang Mulky seorang akhtifis mesjid. Posturnya rata-rata orang Indonesia, berkulit sawo matang, dahinya tinggi tanda seorang pemikir. Dia adalah anak yatim sehingga menjadi tulang punggung keluarganya. Pembawaannya pendiam dan tenang. Melihatnya aku seperti menemukan sebuah buku misteri yang menarik untuk kubaca. Oh iya, dia juga seorang penghafal Quran. Saat itu dia sudah menghafal 2 juz Al-Quran. Ketika dia membaca surat Ar-Rahman di luar kepala, aku hanya menatapnya dari saf wanita dengan hati yang meleleh. Itulah lelaki yang kuidamkan untuk menjadi sumiku. Itulah kali pertama aku jatuh cinta pada mahluk Tuhan berjenis kelamin laki-laki. Rasa cinta itu aku pendam dalam-dalam. Maklum, kami berusaha menjaga mata dan hati kami agar tidak jelalatan, istilah kerennya ghodul bashar. Tapi lagi-lagi aku melanggar. Cinta terpendam ini membuatku jerawatan. Bahkan bisulan. Tapi itu bukan karena cinta terpendam, tapi karena kebanyakan makan telur untuk buka dan sahur.
 Pada saat rapat seringkali aku menatapnya diam-diam. Aku biasanya duduk di paling belakang, pura-pura memperhatikan rapat, padahal aku memperhatikan Kang Mulky. Saat kita sedang jatuh cinta, perilaku orang yang kita cintai  bergerak dalam gerakan lambat. Misalnya saja  ketika Kang Mulky bercerita tentang jadwal pembagian makanan untuk sahur.
 “Qiyamul lail akan berakhir pukul 03.45. Makanan sahur akan dibagikan pukul 03.50. Ingat, kuponnya jangan hilang. Karena pelajaran tahun kemarin, kita kecolongan 100 bungkus nasi. Bukan apa-apa, makanan itu kan kita beli dari rumah makan. Kalau kelebihan maka kita rugi dong,”ucapnya dengan nada serius yang sama.
Nah, jika kata-kata itu bergerak lambat seperti dalam bayanganku, maka akan menjadi,”Jaaaaaaaaaaaaadiiiiiiiiiii qiiiiiiiiyaaaaaamuuuuullll laaaaaaaiiiiiiil beeeeeeeeeerrraaaakkkkhhhhhhiiiir pppuuuuukkkkuuuuulllll tttitiiiigggaaa    eeeeemmmmppppaaaaatttt   limaaaaa…….”, 
Pusing kan? Hehehe, namun dalam benakku yang keracunan demam merah jambu, hal itu biasa saja. Setiap lirikan matanya, gerakan tangannya bahkan degup jantungnya, semuanya terlihat melambat. Setiap kali melihat Kang Mulky,  wajahnya tiba-tiba menjadi  lebih  jelas dimataku. Aku sering berkhayal, Kang Mulky melamarku dengan berlutut, di giginya yang putih terselip setangkai mawar merah, dan ditangan kanannya ada sekotak coklat. Kubayangkan giginya putih bersinar seperti gigi dalam iklan pasta gigi. Matanya yang bulat jernih, bercahaya seperti iklan obat tetes mata. Bukan itu saja, tiba-tiba lagu Amir Diab yang Tamali Maak yang artinya Selalu Denganmu, berkumandang dengan merdunya. Aiiiiiih. Saking tenggelamnya aku dalam lemunanku, aku tidak sengaja berkali-kali memukul tangan Teh Rosy. Dia mengaduh seraya berbisik,
”Teh Rini?”tegurnya.
Aku membuka mataku. Mata-mata peserta rapat itikaf lainnya menatapku penuh selidik. Pandangan penuh tanda Tanya tersirat di wajah mereka. Kang Mulky menatapku lalu bertanya,
”Teh Rini ada yang mau disampaikan?”
Aku menatap kekanan dan kekiri dengan serba salah. Seperti maling ayam tertangkap basah. Aku menggelengkan kepalaku seraya tertunduk malu,
” Tidak ada kang,”ucapku. 
Kalau aku berkulit putih, mungkin saat itu pipiku terlihat merah padam seperti kepiting rebus. Untung saja aku berkulit sawo muda, coklat coklat manis gitu. Bukan saat itu saja aku mempermalukan diriku di depan Kang Mulky. Sebagai panitia yang rumahnya dekat dengan mesjid, aku sering kebagian piket di meja pendaftaran. Aku akan menunggui meja panitia yang membuka pendaftaran pemesanan makanan untuk berbuka dan juga sahur. Sebagai panitia Itikaf, kami dipinjami walkie talkie sebagai sarana pelancar komunikasi kami.  
 Waktu itu pukul 10.30. Masa-masa yang kritis karena setelah semalaman bershalat malam, mata maunya terpejam saja. Suasana mesjid terasa hening. Sayup-sayup terdengar alunan ayat suci dilantunkan jamaah dari kejauhan. Malam nanti adalah malam genap. Jamaah yang hendak beritikaf tidak sebanyak jamaah yang datang pada malam ganjil. Karena kebanyakan orang percaya jika Lailatul Qadar diturunkan pada malam ganjil. Tapi sebagian ulama mengatakan jika malam Lailatul Qadar dipergilirkan diatara 10 hari terakhir Ramadhan. Jadi banyak juga yang beritkaf selama 10 hari terakhir.


 Karena saat itu aku dalam  tahap jiwa dewasa awal, aku lebih sering memperturutkan hawa nafsuku, alias masih labil. Maksudnya, disaat yang lain sedang mengaji Al-Quran, aku malah menyenandungkan lagu Dewa 19 yang Separuh Jiwaku di frekuensi kosong di walkie talkie-ku. Dengan posisi membungkuk diatas meja seperti tertidur, aku bersenandung perlahan agar tidak bisa didengar orang lain.
”Separuh jiwaku, terbang bersama dirimu, saat kau tinggalkanku, salahkanku, salahkah aku bila aku bukanlah seperti aku yang dahulu,”senandungku perlahan. 
Saat asyik menyanyi, ada tepukan pelan di bahuku. Karena kaget, aku melemparkan walkie talkie ke udara. Walkie talkie berwarna biru itu melayang lalu mendarat mulus dengan mengeluarkan suara patah yang mengerikan. Walkie talkie itu pecah menjadi 5 bagian yang besar dan ratusan serpihan lain. Seorang jilbaber berkaos kaki, tidak sengaja menginjak bagian walkie talkie yang besar. Diantara teriakannya yang singkat, dia meluncur bagai seorang peseluncur es diatas keramik mesjid yang putih mulus. Sebelum jatuh, dia menarik kaos kawannya hingga kawannya yang juga berjilbab ikut terjatuh. 
Aku terpana, sebelum tertawa, namun seketika itu juga aku  menutup mulutku. Aku masih ingat aku berada di mesjid. Namun gadis berjilbab yang tadi jatuh, kemudian menginjak serpihan walkie talkie yang lebih kecil dan kembali terjatuh. Aku tak kuasa menahan tawaku. Hanya saja pelototan jamaah yang melihat kejadian itu membuatku menahan tawa. Aku membekap mulutku agar tawa itu tidak meledak. Akibatnya, pipiku sakit, perutku sakit dan mataku mengeluarkan airmata. Perutku yang sakit membuatku ingin buang angin alias kentut. Disela-sela usahaku menahan tawa, aku melepaskan ketenangan perutku dengan kentut perlahan-lahan.
 Dut, dut, dut. 
Aku merasa geli sendiri mendengar suara kentutku. Namun,  tiba-tiba,
“Teh Rini?”
Itu suara Kang Mulky!
  Aku terhenyak. Perlahan-lahan aku membalikkan badanku 180 derajat. Dan disanalah, pangeran idamanku, berdiri sekitar 1 meter di belakang meja panitia. Dari wajahnya yang memerah dan salah tingkah, aku yakin Kang Ian mendengar suara kentutku yang patah-patah  barusan. Aduh, malunya. Ingin sekali aku menyembunyikan wajahku di pasir seperti burung onta. Atau di koper, atau di sumur atau dimana kek, sehingga  aku tidak bertemu dengan Kang Mulky. Habis sudah harapanku  masuk ke dalam  daftar wanita yang layak dijadikan istri olehnya. Malah, aku akan dikenang olehnya sebagai jilbaber berkentut patah-patah!
Ingin sekali aku menangis. Ingin sekali aku menangis, ingin sekali aku menghilang!
Aku tak ikut rapat hari itu karena malu bertemu Kang Mulky.
Itikafku tahun itu adalah yang terburuk sepanjang aku menjadi panitia. Bacaan Quranku tidak tamat. Padahal tahun sebelumnya, aku bisa menamatkan bacaan Quran 2 kali selama seminggu. Setelah jatuh cinta pada Kang Mulky, sholatku jadi tidak khusu. Bayangannya selalu menari-nari di pelupuk mataku. Ekspresinya yang kaget saat itu, membuatku ingin pergi jadi TKW ke Arab Saudi. 


Akhirnya aku menumpahan uneg-unegku pada Teh Sofia, sesama panitia yang sudah senior mengaji 1 tahun diatasku. Aku mempercayakan ceritaku, rasa maluku, dan  rasa cintaku padanya. Setidaknya Teh Sofia telah berpengalaman dalam menampung curahan hati seorang jilbaber konyol sepertiku. Setelah menceritakan segalanya, perasaanku menjadi lega. Setidaknya aku bias membagi bebanku dengan seseorang yang bisa kupercayai. Teh Sofia memberiku saran,
”Ya sudah atuh, Teteh minta ditaarufkan saja sama Kang Mulky melalui guru ngajinya. Daripada ibadah Teh Rini jadi terganggu gara-gara membayangkan Kang Mulky terus.”
Aku mengangguk setuju. Lalu aku minta bantuan Kang David, sahabat Kang Mulky untuk menaarufkanku. Seminggu setelah Lebaran Kang David datang ke rumah membawa jawaban yang kutunggu.
”Kang Mulky sudah beristikharah dan berpikir masak-masak, Teh Rini. Untuk saat ini, beliau belum siap menikah Teh. Maklum, dia kan anak lelaki satu-satunya. Tanggungannya banyak.. Jangan sedih ya Teh, mungkin Teh Rini belum berjodoh dengan Kang Mulky,”ucap Kang David.
Aku menerima jawaban dari Kang David dengan hati yang sedih dan mendongkol. Apa yang aku harapkan sih? Aku sudah mempermalukan diriku sendiri di depan Kang Mulky. Pastilah dia menganggap aku konyol.  Sudah pasti dia akan menolakku.  Walau pedih, aku berusaha menabahkan hati. Setidaknya aku tahu bagaiamana perasaan Kang Mulky kepadaku.
Sebulan kemudian aku mendapat kabar yang mengejutkan. Kang Mulky akan menikah. Dan wanita berjilbab yang akan dinikahinya adalah Teh Sofia!
Saat berita itu kudengar dari mulut Teh Keti sendiri, aku merasa telingaku mendengar suara singa yang keluar dari kandangnya, gonggongan anjing, lenguhan sapi, cericit burung, meongan kucing dan ular derik sekaligus.
Yah, hatiku saat itu porak poranda seperti kebun binatang yang diacak-acak binatang penghuninya.


Tapi sebagai muslim, aku harus ikut berbahagia dengan kabar pernikahan mereka. Aku harus mengubur rasa sedihku jauh-jauh di kedalaman hatiku. Dan aku membuktikannya dengan ikut menjadi Pageur Ayu, barisan pengiring pengantin dari pihak wanita. Saat aku melihat mereka bersanding di pelaminan, aku baru tersadar. Mencintai seseorang itu tidak harus memiliki orang tersebut. Mencintai berarti juga bersiap melepaskan jika yang kita suka belum menjadi milik kita. Kisah patah hati pertamaku ini kuanggap pelajaran langsung dari Tuhan. Mungkin, Tuhan ingin aku lebih dewasa lagi dalam menyikapi hidup ini. (rinz)

Rabu, 19 Maret 2014

Makhluk Ajaib



Makhluk Ajaib


                 Kerangkeng itu terbuka. Makhluk di dalamnya telah menghilang. Kemanakah dia? Aku teringat proses penangkapannya yang menghabiskan tenaga. Belum lagi pertapaanku yang harus aku lakukan selama sebulan penuh. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Padahal aku memiliki banyak permintaan yang hendak kuajukan. Aku meneliti kerangkeng besi. Bagaimana bisa dia membuka kerangkeng yang kukunci itu? Kerangkeng besi tempat menyekap makhluk itu kokoh dan tak terlihat tanda-tanda adanya pengrusakan. Sial! Kemana lagi harus kucari makhluk seperti itu?
Saat aku menemukannya pertama kali, aku sudah menduga bahwa makhluk itu adalah makhluk ajaib. Makhluk hidup yang bisa kita pintai keinginan. Ya, aku percaya makhluk itu bisa mengabulkan keinginanku. Ratusan pengusaha sukses di Jakarta bersaksi tentang makhluk itu. Dan aku menemukan makhluk itu tanpa perantara orang pintar yang biasa memeliharanya, yang menjadikannya pelayan penyugihan para pengusaha yang ingin bertambah kaya.
    Aku membuka lemari, siapa tahu makhluk itu bersembunyi di dalamnya. Kosong. Hanya baju-bajuku yang ada di sana. Aku melongok ke bawah tempat tidur. Nihil. Akhirnya aku duduk di kursi rotan. Aku sulut rokok kretekku. Kemana lagi harus kucari makhluk itu?
    Asap abu-abu mengabut di rumah berdinding papan kasar itu. Gentengnya yang coklat bisa terlihat dari tempatku duduk. Aku memang belum mampu menyekatnya dengan triplek. Uang hasil penjualan tanah dan sapiku habis  kugunakan membeli persyaratan mahar ilmu yang ingin kumiliki. Karena itu, bila hujan datang, banyak tetesan air hujan menetes ke lantai rumah. Tetesan itu menimbulkan noda di lantai yang kadang kulap dengan asal.
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar rumah. Rumah tua itu mulai retak dindingnya. Lantai berkeramik pun sudah kusam karena noda lumpur dan debu yang mengerak. Perabotanya juga sudah lama tertutupi debu. Ada sebuah TV berukuran 26 inci yang sudah lama tak kutonton. Perangkat elektronik pemberian orang-orang yang percaya jika aku sakti, teronggok di atas meja kayu jati. Ada radio, kipas angin, DVD player, dan setumpuk DVD yang berisikan penyanyi dangdut yang manggung di sekitar pesisir Pantura. Sebuah kulkas merek terbaru membeku di sudut ruang. Ah, kalau saja Eni mau menjadi istriku. Rumah dan perabotannya, juga tanah ini akan aku berikan pada dia. Bukan itu saja, hatiku juga akan aku serahkan. Sayang dia menolakku.
Aku menghisap dalam-dalam rokokku. Kepulan demi kepulan keluar dari mulutku. Aku tidak tahu mengapa rokok senikmat ini dilarang. Kalau memang rokok itu terdiri dari hal-hal yang meracuni saraf dan badan, mengapa rokok terus dibuat?     Dasar dagelan orang-orang pintar itu!
Aku memikirkan Eni. Kembang desa yang kucintai semenjak kecil dulu. Hatinya yang keras sangat sulit kululuhkan. Walau aku berjanji akan memberinya motor dan sapi sebagai mas kawin, Eni tetap menolak.
    "Aku tidak butuh motor atau sapi, Mas. Yang aku butuhkan adalah seorang suami yang bisa bersedia menjadi imam yang baik untukku, " kata Eni saat menolakku.
    "Mas juga bisa menjadi imammu, En!" kataku saat itu.
Eni tersenyum sinis. Aduhai,  senyuman sinisnya mampu membuat dadaku berdegup kencang. Eni membetulkan kerudungnya. Tangannya yang kuning langsat tertutupi baju panjang yang tidak menampakkan bentuk tubuhnya. Kakinya pun berkaos kaki. Inilah gadis pujaan hatiku. Terlindung dengan apik bagai telur burung unta yang terjaga.
    "Bagaimana Mas bisa menjadi imamku jika Mas saja tidak pernah sholat? Apalagi Eni dengar dari tetangga dan orangtua Eni, kalau Mas itu suka bertapa di Gunung Merapi. Untuk apa Mas melakukan itu?” sergah Eni dengan suara perlahan. Walaupun pelan, kalimatnya itu bagai menusukkan sembilu di hatiku.
“ Mas tidak tahu kan, kalau saya benci dengan orang yang melakukan perbuatan musyrik seperti itu!" ucap Eni lagi.
Pernyataan Eni membuatku naik pitam. Dia beraninya menuduhku musyrik!
    "Jangan sembarangan kamu, En! Aku bukan musyrik! Aku juga menyembah Tuhan! Aku hanya menjadikan pertapaanku untuk mencari ilmu yang membuatku tahan senjata! Kamu tahu zaman apa sekarang?”
Eni menegakkan tubuhnya dan menatap mataku tajam. Aku meneguk ludah sebelum membalas perkataannya yang kurang ajar. Jarang sekali Eni langsung menatap kedua mataku. Biasanya gadis itu menunduk jika kuajak bicara. Matanya berbicara seakan siap berperang. Hatiku bergidik entah kenapa.
“ Sekarang zaman carut-marut En! Kalau yang haram saja susah, apalagi yang halal! Banyak yang dibunuh gara-gara uang lima ribu! Aku ini pekerja keras En, aku butuh perlindungan yang bisa kupegang. Kamu jangan asal membenci aku, jika belum tahu alasannya aku berbuat seperti itu! Aku bisa membuatmu tresno jika kau memberiku kesempatan."
 Eni menatapku tajam. Tatapannya menusuk batinku. Tiba-tiba aku merasa gelisah.
    "Itulah kenapa aku tidak mau menjadi makmum-mu! Pikiranmu yang dangkal seperti itu hanya akan membuatku menderita jika mau menikah dengan Mas. Tidak akan ada rasa tresno di hatiku selama Mas masih berbuat kemusyrikan semacam itu. Maaf, lebih baik Mas pergi sekarang! Aku menolak lamaran Mas!"
Aku bergeming dari dudukku. Kurasakan darah berhenti mengalir saat Eni mengucapkan kalimat pedas seperti itu. Hatiku serasa remuk-redam. Bumi seakan terjungkir balik dan membenamkan aku ke dalamnya. Langit terasa runtuh dan menghancurkan kepalaku hingga ke butiran otakku yang terkecil. Aku patah hati! Dan itu membuatku ingin membalas Eni dengan seribu kali lipat penderitaan luka hati, seperti yang dia berikan padaku sekarang.
 Aku akan membalasmu Eni! Aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku dan memohon-mohon cintaku. Dan saat itu terjadi , aku akan mempermalukanmu dengan menolakmu! Aku akan membuatmu gila! Aku akan membuatmu gila karena saking cintanya padaku! Yah, lihat saja pembalasanku En! Lihat nanti!
Aku meremas sebungkus rokok kretek sebagai pelampiasan amarahku. Lalu kubuang ke lantai dengan sengaja.  Kurasakan kegelisahan merambati hati Pak Wongso, Ayah Eni. Dia pasti tidak menduga jawaban putrinya atas pinanganku akan berakhir seperti ini. Kemarin aku ancam dia, jika dia menolak lamaranku, sawahnya yang dekat hutan pohon karet akan habis dimangsa hama.
Pak Wongso percaya aku mempunyai kesaktian. Padahal, aku hanya menggertak sambal saja. Aku memang ingin memiliki ilmu kesaktian mandaraguna, tapi seringkali mahar yang kupersembahkan pada calon guruku kalah oleh orang lain yang memang sudah dari sananya berdompet tebal. Dan sekarang Eni, gadis pujaanku menolak dengan tegas, tanpa tedeng aling-aling.
    Maka sore itu aku pergi dari rumahnya dengan dendam membara di hatiku. Aku sudah membulatkan tekad untuk menaklukkan hatinya, bagaimanapun caranya. Kalau aku harus memberikan tumbal bagi jin supaya bisa menaklukkan hati Eni, aku akan melakukannya. Karena itulah aku kembali ke Gunung Merapi untuk bertapa.
   Sudah satu bulan aku bertapa di salah satu ceruk Gunung Merapi. Para senior-ku di bidang keghaiban mengatakan, jika aku ingin keinginanku terkabul, aku harus bertapa di ceruk itu selama sebulan penuh. Mereka membekaliku dengan sebuah cemeti yang terbuat dari ekor kuda yang dibacai mantra-mantra.
Aku masih diperbolehkan makan. Tapi aku dipantang untuk memakan makanan yang telah dimasak terlebih dahulu. Karena itu aku hanya memakan dedaunan dan kelelawar. Kelelawar itu aku sayat lehernya sebelum ku makan. Darahnya aku biarkan mengalir menggenangi tanah gua. Untuk minum, aku pergi ke sebuah mata air yang memancar dekat ceruk. Dan selama sebulan aku melakukan itu, aku merasa ada yang berubah. Rasa kemanusiaannku perlahan musnah. Yang ada pada diriku adalah naluri untuk membunuh dan menaklukkan.

    Tepat sebulan aku bertapa, saat bulan purnama tiba, aku melihat makhluk ajaib itu. Aku sungguh tak mengira, niatku untuk buang hajat untuk pertama kalinya dalam sebulan itu, mengantarku pada pertemuanku dengan mahluk ajaib itu. Tak kukira makhluk pengabul keinginan itu memiliki sosok yang cantik.
 Entah bagaimana, setiap warna di bulunya memancar dengan indahnya, walau malam pekat menyelubungi sumber mata air itu.  Bulunya yang memiliki tiga warna, ungu, hitam dan biru, berpendar indah tertimpa sinar keperakan dari bulan purnama. Paruhnya yang besar berwarna merah tua. Kakinya yang besar juga memiliki warna merah tua. Mata makhluk itu berwarna hitam. Makhluk itu tengah bersimpuh di samping mata air. Rupanya mahluk itu mengenal kata haus juga.
   Dengan mengendap-ngendap aku menghampiri makhluk itu dari belakang. Saat jemariku hendak menangkapnya, makhluk itu berbalik menghadapku dan menampakkan wujud aslinya.
Sosok yang semula seukuran burung Beo itu, berubah menjadi seukuran pohon kelapa. Wajahnya berubah menyeramkan. Taring bermunculan di paruhnya yang melebar. Matanya bersinar merah dan melotot ke arahku. Aku tidak gentar. Para seniorku telah memberitahuku soal perubahan mahluk itu.
   Maka kami pun berkelahi.
 Paruh mahluk itu bertubi-tubi menyerangku. Sayapnya membuat angin keras yang bergulung-gulung mengehempaskanku jauh-jauh. Tapi aku tidak menyerah, aku kembali memburu mahluk itu. Aku mencari-cari  celah untuk melukainya. Entah apa yang merasuk ke dalam tubuhku. Aku menyerang tubuh makhluk itu dengan bertubi-tubi. Bak kesetanan, aku membabatkan cemeti itu kesekujur tubuh makhluk itu. Mahluk itu kembali menyerangku dengan cakarnya berwarna merah darah. Aku mencabut keris pemberian Eyang Kusumo, guru silatku. Aku menangkis setiap serangan dengan keris  dari cakarnya yang tajam.
Entah berapa lama kami berkelahi. Pepohonan di sekitarku mulai porak poranda bagai diterjang angin puyuh. Aku terus memecutkan cemeti itu sampai peluhku bercucuran. Sambil memecut, aku rapalkan mantra-mantra yang menjadi bekalan Eyang Kusumo. Dan tatkala aku lihat mahluk itu berubah ke sosoknya yang semula, aku menghentikan pecutanku dan menangkapnya dengan mudah. Menatap makhluk itu terkulai tak berdaya di tanganku,aku lalu tertawa terbahak-bahak.
“Aku, Joko, bisa menangkap makhluk ajaib pengabul keinginan!”teriakanku menggelegar di tengah malam sunyi.
 Malam itu juga aku turun gunung. Makhluk itu kumasukkan dalam karung goni yang kubawa dari rumah.
    Akhirnya aku sampai di rumah. Aku lalu memasukkan makhluk itu ke dalam kerangkeng besi, tempat dulu aku menyimpan burung Murai, yang mati mendadak entah karena penyakit apa. Mungkin saja karena santet kiriman orang. Setelah itu aku pergi mandi di sungai. Tubuhku yang sebulan tak dimandikan, meninggalkan lapisan daki tebal. Aku menggosoknya dengan batu apung yang ada di sekitar sungai.
                Hatiku gembira, sebentar lagi hati Eni akan kutaklukkan dengan bantuan makhluk itu.

 Tapi kini, kerangkeng itu terbuka. Makhluk di dalamnya telah menghilang. Kemanakah dia?
Aku teringat proses penangkapannya yang menghabiskan tenaga. Belum lagi pertapaanku yang harus aku lakukan selama sebulan penuh. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
 Padahal aku memiliki banyak permintaan yang hendak kuajukan. Aku meneliti kerangkeng besi. Bagaimana bisa dia membuka kerangkeng yang kukunci itu?
Kerangkeng besi tempat menyekap makhluk itu kokoh dan tak terlihat tanda-tanda adanya pengrusakan. Sial! Kemana lagi harus kucari makhluk seperti itu?
 Makhluk ajaib di dalamnya telah hilang. Burung Tengkek Buto itu telah menghilang.{sr}