Rabu, 19 Maret 2014

Makhluk Ajaib



Makhluk Ajaib


                 Kerangkeng itu terbuka. Makhluk di dalamnya telah menghilang. Kemanakah dia? Aku teringat proses penangkapannya yang menghabiskan tenaga. Belum lagi pertapaanku yang harus aku lakukan selama sebulan penuh. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Padahal aku memiliki banyak permintaan yang hendak kuajukan. Aku meneliti kerangkeng besi. Bagaimana bisa dia membuka kerangkeng yang kukunci itu? Kerangkeng besi tempat menyekap makhluk itu kokoh dan tak terlihat tanda-tanda adanya pengrusakan. Sial! Kemana lagi harus kucari makhluk seperti itu?
Saat aku menemukannya pertama kali, aku sudah menduga bahwa makhluk itu adalah makhluk ajaib. Makhluk hidup yang bisa kita pintai keinginan. Ya, aku percaya makhluk itu bisa mengabulkan keinginanku. Ratusan pengusaha sukses di Jakarta bersaksi tentang makhluk itu. Dan aku menemukan makhluk itu tanpa perantara orang pintar yang biasa memeliharanya, yang menjadikannya pelayan penyugihan para pengusaha yang ingin bertambah kaya.
    Aku membuka lemari, siapa tahu makhluk itu bersembunyi di dalamnya. Kosong. Hanya baju-bajuku yang ada di sana. Aku melongok ke bawah tempat tidur. Nihil. Akhirnya aku duduk di kursi rotan. Aku sulut rokok kretekku. Kemana lagi harus kucari makhluk itu?
    Asap abu-abu mengabut di rumah berdinding papan kasar itu. Gentengnya yang coklat bisa terlihat dari tempatku duduk. Aku memang belum mampu menyekatnya dengan triplek. Uang hasil penjualan tanah dan sapiku habis  kugunakan membeli persyaratan mahar ilmu yang ingin kumiliki. Karena itu, bila hujan datang, banyak tetesan air hujan menetes ke lantai rumah. Tetesan itu menimbulkan noda di lantai yang kadang kulap dengan asal.
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar rumah. Rumah tua itu mulai retak dindingnya. Lantai berkeramik pun sudah kusam karena noda lumpur dan debu yang mengerak. Perabotanya juga sudah lama tertutupi debu. Ada sebuah TV berukuran 26 inci yang sudah lama tak kutonton. Perangkat elektronik pemberian orang-orang yang percaya jika aku sakti, teronggok di atas meja kayu jati. Ada radio, kipas angin, DVD player, dan setumpuk DVD yang berisikan penyanyi dangdut yang manggung di sekitar pesisir Pantura. Sebuah kulkas merek terbaru membeku di sudut ruang. Ah, kalau saja Eni mau menjadi istriku. Rumah dan perabotannya, juga tanah ini akan aku berikan pada dia. Bukan itu saja, hatiku juga akan aku serahkan. Sayang dia menolakku.
Aku menghisap dalam-dalam rokokku. Kepulan demi kepulan keluar dari mulutku. Aku tidak tahu mengapa rokok senikmat ini dilarang. Kalau memang rokok itu terdiri dari hal-hal yang meracuni saraf dan badan, mengapa rokok terus dibuat?     Dasar dagelan orang-orang pintar itu!
Aku memikirkan Eni. Kembang desa yang kucintai semenjak kecil dulu. Hatinya yang keras sangat sulit kululuhkan. Walau aku berjanji akan memberinya motor dan sapi sebagai mas kawin, Eni tetap menolak.
    "Aku tidak butuh motor atau sapi, Mas. Yang aku butuhkan adalah seorang suami yang bisa bersedia menjadi imam yang baik untukku, " kata Eni saat menolakku.
    "Mas juga bisa menjadi imammu, En!" kataku saat itu.
Eni tersenyum sinis. Aduhai,  senyuman sinisnya mampu membuat dadaku berdegup kencang. Eni membetulkan kerudungnya. Tangannya yang kuning langsat tertutupi baju panjang yang tidak menampakkan bentuk tubuhnya. Kakinya pun berkaos kaki. Inilah gadis pujaan hatiku. Terlindung dengan apik bagai telur burung unta yang terjaga.
    "Bagaimana Mas bisa menjadi imamku jika Mas saja tidak pernah sholat? Apalagi Eni dengar dari tetangga dan orangtua Eni, kalau Mas itu suka bertapa di Gunung Merapi. Untuk apa Mas melakukan itu?” sergah Eni dengan suara perlahan. Walaupun pelan, kalimatnya itu bagai menusukkan sembilu di hatiku.
Mas tidak tahu kan, kalau saya benci dengan orang yang melakukan perbuatan musyrik seperti itu!" ucap Eni lagi.
Pernyataan Eni membuatku naik pitam. Dia beraninya menuduhku musyrik!
    "Jangan sembarangan kamu, En! Aku bukan musyrik! Aku juga menyembah Tuhan! Aku hanya menjadikan pertapaanku untuk mencari ilmu yang membuatku tahan senjata! Kamu tahu zaman apa sekarang?
Eni menegakkan tubuhnya dan menatap mataku tajam. Aku meneguk ludah sebelum membalas perkataannya yang kurang ajar. Jarang sekali Eni langsung menatap kedua mataku. Biasanya gadis itu menunduk jika kuajak bicara. Matanya berbicara seakan siap berperang. Hatiku bergidik entah kenapa.
Sekarang zaman carut-marut En! Kalau yang haram saja susah, apalagi yang halal! Banyak yang dibunuh gara-gara uang lima ribu! Aku ini pekerja keras En, aku butuh perlindungan yang bisa kupegang. Kamu jangan asal membenci aku, jika belum tahu alasannya aku berbuat seperti itu! Aku bisa membuatmu tresno jika kau memberiku kesempatan."
 Eni menatapku tajam. Tatapannya menusuk batinku. Tiba-tiba aku merasa gelisah.
    "Itulah kenapa aku tidak mau menjadi makmum-mu! Pikiranmu yang dangkal seperti itu hanya akan membuatku menderita jika mau menikah dengan Mas. Tidak akan ada rasa tresno di hatiku selama Mas masih berbuat kemusyrikan semacam itu. Maaf, lebih baik Mas pergi sekarang! Aku menolak lamaran Mas!"
Aku bergeming dari dudukku. Kurasakan darah berhenti mengalir saat Eni mengucapkan kalimat pedas seperti itu. Hatiku serasa remuk-redam. Bumi seakan terjungkir balik dan membenamkan aku ke dalamnya. Langit terasa runtuh dan menghancurkan kepalaku hingga ke butiran otakku yang terkecil. Aku patah hati! Dan itu membuatku ingin membalas Eni dengan seribu kali lipat penderitaan luka hati, seperti yang dia berikan padaku sekarang.
 Aku akan membalasmu Eni! Aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku dan memohon-mohon cintaku. Dan saat itu terjadi , aku akan mempermalukanmu dengan menolakmu! Aku akan membuatmu gila! Aku akan membuatmu gila karena saking cintanya padaku! Yah, lihat saja pembalasanku En! Lihat nanti!
Aku meremas sebungkus rokok kretek sebagai pelampiasan amarahku. Lalu kubuang ke lantai dengan sengaja.  Kurasakan kegelisahan merambati hati Pak Wongso, Ayah Eni. Dia pasti tidak menduga jawaban putrinya atas pinanganku akan berakhir seperti ini. Kemarin aku ancam dia, jika dia menolak lamaranku, sawahnya yang dekat hutan pohon karet akan habis dimangsa hama.
Pak Wongso percaya aku mempunyai kesaktian. Padahal, aku hanya menggertak sambal saja. Aku memang ingin memiliki ilmu kesaktian mandaraguna, tapi seringkali mahar yang kupersembahkan pada calon guruku kalah oleh orang lain yang memang sudah dari sananya berdompet tebal. Dan sekarang Eni, gadis pujaanku menolak dengan tegas, tanpa tedeng aling-aling.
    Maka sore itu aku pergi dari rumahnya dengan dendam membara di hatiku. Aku sudah membulatkan tekad untuk menaklukkan hatinya, bagaimanapun caranya. Kalau aku harus memberikan tumbal bagi jin supaya bisa menaklukkan hati Eni, aku akan melakukannya. Karena itulah aku kembali ke Gunung Merapi untuk bertapa.
   Sudah satu bulan aku bertapa di salah satu ceruk Gunung Merapi. Para senior-ku di bidang keghaiban mengatakan, jika aku ingin keinginanku terkabul, aku harus bertapa di ceruk itu selama sebulan penuh. Mereka membekaliku dengan sebuah cemeti yang terbuat dari ekor kuda yang dibacai mantra-mantra.
Aku masih diperbolehkan makan. Tapi aku dipantang untuk memakan makanan yang telah dimasak terlebih dahulu. Karena itu aku hanya memakan dedaunan dan kelelawar. Kelelawar itu aku sayat lehernya sebelum ku makan. Darahnya aku biarkan mengalir menggenangi tanah gua. Untuk minum, aku pergi ke sebuah mata air yang memancar dekat ceruk. Dan selama sebulan aku melakukan itu, aku merasa ada yang berubah. Rasa kemanusiaannku perlahan musnah. Yang ada pada diriku adalah naluri untuk membunuh dan menaklukkan.

    Tepat sebulan aku bertapa, saat bulan purnama tiba, aku melihat makhluk ajaib itu. Aku sungguh tak mengira, niatku untuk buang hajat untuk pertama kalinya dalam sebulan itu, mengantarku pada pertemuanku dengan mahluk ajaib itu. Tak kukira makhluk pengabul keinginan itu memiliki sosok yang cantik.
 Entah bagaimana, setiap warna di bulunya memancar dengan indahnya, walau malam pekat menyelubungi sumber mata air itu.  Bulunya yang memiliki tiga warna, ungu, hitam dan biru, berpendar indah tertimpa sinar keperakan dari bulan purnama. Paruhnya yang besar berwarna merah tua. Kakinya yang besar juga memiliki warna merah tua. Mata makhluk itu berwarna hitam. Makhluk itu tengah bersimpuh di samping mata air. Rupanya mahluk itu mengenal kata haus juga.
   Dengan mengendap-ngendap aku menghampiri makhluk itu dari belakang. Saat jemariku hendak menangkapnya, makhluk itu berbalik menghadapku dan menampakkan wujud aslinya.
Sosok yang semula seukuran burung Beo itu, berubah menjadi seukuran pohon kelapa. Wajahnya berubah menyeramkan. Taring bermunculan di paruhnya yang melebar. Matanya bersinar merah dan melotot ke arahku. Aku tidak gentar. Para seniorku telah memberitahuku soal perubahan mahluk itu.
   Maka kami pun berkelahi.
 Paruh mahluk itu bertubi-tubi menyerangku. Sayapnya membuat angin keras yang bergulung-gulung mengehempaskanku jauh-jauh. Tapi aku tidak menyerah, aku kembali memburu mahluk itu. Aku mencari-cari  celah untuk melukainya. Entah apa yang merasuk ke dalam tubuhku. Aku menyerang tubuh makhluk itu dengan bertubi-tubi. Bak kesetanan, aku membabatkan cemeti itu kesekujur tubuh makhluk itu. Mahluk itu kembali menyerangku dengan cakarnya berwarna merah darah. Aku mencabut keris pemberian Eyang Kusumo, guru silatku. Aku menangkis setiap serangan dengan keris  dari cakarnya yang tajam.
Entah berapa lama kami berkelahi. Pepohonan di sekitarku mulai porak poranda bagai diterjang angin puyuh. Aku terus memecutkan cemeti itu sampai peluhku bercucuran. Sambil memecut, aku rapalkan mantra-mantra yang menjadi bekalan Eyang Kusumo. Dan tatkala aku lihat mahluk itu berubah ke sosoknya yang semula, aku menghentikan pecutanku dan menangkapnya dengan mudah. Menatap makhluk itu terkulai tak berdaya di tanganku,aku lalu tertawa terbahak-bahak.
Aku, Joko, bisa menangkap makhluk ajaib pengabul keinginan!”teriakanku menggelegar di tengah malam sunyi.
 Malam itu juga aku turun gunung. Makhluk itu kumasukkan dalam karung goni yang kubawa dari rumah.
    Akhirnya aku sampai di rumah. Aku lalu memasukkan makhluk itu ke dalam kerangkeng besi, tempat dulu aku menyimpan burung Murai, yang mati mendadak entah karena penyakit apa. Mungkin saja karena santet kiriman orang. Setelah itu aku pergi mandi di sungai. Tubuhku yang sebulan tak dimandikan, meninggalkan lapisan daki tebal. Aku menggosoknya dengan batu apung yang ada di sekitar sungai.
                Hatiku gembira, sebentar lagi hati Eni akan kutaklukkan dengan bantuan makhluk itu.

 Tapi kini, kerangkeng itu terbuka. Makhluk di dalamnya telah menghilang. Kemanakah dia?
Aku teringat proses penangkapannya yang menghabiskan tenaga. Belum lagi pertapaanku yang harus aku lakukan selama sebulan penuh. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
 Padahal aku memiliki banyak permintaan yang hendak kuajukan. Aku meneliti kerangkeng besi. Bagaimana bisa dia membuka kerangkeng yang kukunci itu?
Kerangkeng besi tempat menyekap makhluk itu kokoh dan tak terlihat tanda-tanda adanya pengrusakan. Sial! Kemana lagi harus kucari makhluk seperti itu?
 Makhluk ajaib di dalamnya telah hilang. Burung Tengkek Buto itu telah menghilang.{sr}

HUJAN DI BULAN FEBRUARI





Roni menata meja dan kursi-kursi. Kursi bermotif kotak-kotak warna biru dengan tepian warna putih serasi itu telah selesai dilapnya. Setiap satu meja terdapat empat kursi dengan bantalan duduk motif yang sama dengan mejanya. Bambu Jepang yang tumbuh tinggi semakin meneduhkan halaman Kafé itu. 2 pohon cemara berdiri anggun di sisi kiri dan kanan halaman Kafé bak 2 orang penjaga.
Ah, kembali lagi ke Love Cafe,” pikirnya senang.
Roni dengan teratur kembali ke Kafé itu untuk menjadi pelayan paruh waktu. Upahnya lumayan menambah uang sakunya. Kuliah di Imperial College London membutuhkan banyak dana. Dana yang tidak sedikit buat anak dosen seperti dia. Setahun kemarin ayahnya masuk rumah sakit karena serangan stroke. Kini ayahnya berada di rumah dengan keadaan badan setengah lumpuh. Otomatis, beliau tidak bisa lagi bekerja dan menafkahi keluarganya. Padahal, orang yang mendorongnya melanjutkan pendidikannya di Imperial College London, adalah ayahnya.
“Kamu pintar Ron, otakmu encer . Kamu bisa masuk ke Imperial College London itu merupakan suatu mukjizat terbesar buat kita. Walaupun ayahmu ini hanya dosen, tapi kamu harus menjadi orang yang bisa melebihi ayah. Pergilah ke Imperial College London. Pergilah ke Inggris. Kalau perlu, pergilah ke seluruh dunia. Jadikan masa mudamu sebagai jejak kedewasaan mu.”
Dan disinilah dia berada. Inggris. Di Imperial College London sebagai seorang mahasiswa jurusan kedokteran. Imperial College London merupakan salah satu universitas bergengsi di negeri Pangeran Charles dan Ratu Elizabeth ini. Perguruan tinggi ini merupakan universitas terbaik ke-5 di tahun 2009. Walaupun untuk kuliah disana, dia harus meninggalkan semuanya di Indonesia, Keluarga, karir modelingnya, dan juga Ayu, tunangannya.


Ting ting ting. Bel pemesanan berbunyi. Roni menoleh. Dhef Chopra dan Maharani Chopra, pemilik Love Kafé tertawa melihatnya.
“Wah, calon dokter kita kerja keras juga rupanya. Tidak disangka, mantan model majalah mau juga kerja disini,”ujar Dhef Chopra kagum.
Roni tersenyum menatap pasangan suami istri itu. Dia sangat berterimakasih kepada mereka. Bukan hanya pekerjaan paruh waktu yang dia dapatkan di Love Café ini, namun juga kehangatan keluarga. Dia diperlakukan dengan sangat akrab oleh Dhef Chopra dan Maharani Chopra. Mereka menjadi warga negara Inggris sejak 15 tahun lalu. Mereka sudah menikah selama 10 tahun tapi belum dikarunia anak. Untuk mengusir kebosanan pada diri Maharani Chopra yang ternyata seorang Enterpreneur keluaran Imperial College London juga, maka didirikanlah Love Kafé. Love Kafé terletak di Kampus South Kensington Level 1 Gedung Sherfield yang memilki menara. Kafé ini menyediakan makanan India dan makanan Internasional lainnya. Maharani sendiri yang meracik bumbu masakannya. Soal rasa, Roni yang memiliki lidah Indonesia saja sangat menyukainya.
Menara Ratu itu tingginya 287 kaki, terbuat dari batu gamping dan atapnya dibentuk menyerupai kubah. Ada 324 anak tangga dari lantai dasar sampai lantai dibawah kubah menara. Anak tangga itu berbentuk spiral keatas. Dan disanalah pertama kali ia melihat gadis manis berambut ombak sepunggung. Jaketnya berwarna biru neon, dan celananya jeans biru donker. Dia sangat cantik ketika terkena tiupan angin hujan dibelakang siluetnya. Hujan membuat gadis manis itu, kedinginan rupanya. Tangannya yang lentik digosok-gosokannya sambil matanya tetap menatap hujan yang memukul jendela menara.
Dia sedang duduk di anak tangga terakhir, menatap hampa ke pemandangan sekeliling kampus. Roni segera berlari ke lantai dasar, tempat Kafenya berada. Dia menuang segelas besar coklat panas di gelas kertas terbesar yang bisa ditemukannya, kemudian menaburi kayu manis diatas busanya. Roni kembali ke tempat dimana dia melihat gadis manis itu, secepat yang kakinya bisa. Sampai disana, sosok gadis manis itu telah menghilang. Dengan gontai dan hati masygul, Roni mendekati jendela menara dan melihat hujan yang mengguyur gedung-gedung Imperial College London.
Diminumnya perlahan coklat panasnya. Dan saat itulah dia melihat dompet berwarna merah jambu dengan merek Louis Viton, tergeletak di anak tangga. Roni meletakkan gelas kertasnya di lantai, seraya mengambil dompet itu. Di dalam dompet dia mencari kartu mahasiswa. Kemudian Roni tersenyum. Foto gadis manis itu ada disana. Namanya Nita Tunggal Waluyo.
Roni membaca tulisan hasil kuliahnya tadi disebuah bangku taman yang panjang. Udara dingin membuat nafasnya beruap. Bahkan bangkunyapun masih terasa basah sisa hujan semalam. Ditatapnya kampus jurusan Bisnis itu dengan hati berdetak kencang. Apa yang akan dikatakannya pertama kali pada Nita?
Hai, saya Roni, kemarin saya menemukan dompet anda terjatuh di tangga menara, ini, silahkan dicek. Ada yang kurang? Oh kurang seribu pound? I’m terribly sorry, I just found your wallet. Mungkin uang yang kurang itu anda belikan sepatu atau baju mungkin?”
Roni menggelengkan kepalanya. Dasar bodoh! Rutuk dirinya.
Dibuka kembali buku catatannya. Tapi secepat kilat ditutupnya lagi. Saat ini benaknya dipenuhi dengan gadis itu. Ia tidak mungkin bisa membaca catatannya yang amburadul saking cepatnya menulis. Roni mendengus. Dimasukkannya kembali buku berharga itu ke dalam tas ranselnya. Ekor matanya menangkap serombongan mahasiswa keluar dari gedung kampus. Dengan cermat diperhatikannya setiap gadis yang berrambut ombak sepunggung. Dadanya berdesir ketika sosok yang dicarinya itu berjalan ke arah Love Kafé. Tanpa menunggu lagi, Roni melompat bangkit dari bangku dan membuntuti gadis itu.
Nita memasuki Love Kafé, memesan minuman pada Dhev di meja konter, membayarnya, lalu duduk di sebuah kursi dengan meja menghadap jendela. Dia sendirian. Yah inilah kesempatannya. Roni memasuki Love Café, tersenyum pada Dhev yang membelalakkan mata padanya.
”Hey, kamu libur hari ini bukan? Mengapa kamu kesini?”tanyanya dalam bahasa Inggris.
Roni menghampirinya seraya berbisik,
”Masalah gadis Dhev, “ bisiknya. Dhev tertawa.
Roni memesan Coffelate dan sepiring siomay ayam pedas dengan saos tomat. Perlahan dia menghampiri meja dimana Nita berada. Dia kemudian berdehem. Nita menoleh ke arahnya.
“Hai, aku Roni, boleh aku duduk disini?”pinta Roni.
Nita menatapnya sejenak sebelum mengangguk. Roni meletakkan gelas Coffelate dan sepiring siaomay diatas meja.
“Kemarin kamu pergi ke menara kan?” tanya Roni.
Nita melihatnya lagi. Lebih lama kali ini.
”Apa mau kamu?” sahut Nita dingin.
Roni tersenyum. Dia merogoh kedalam tas ranselnya dan mengeluarkan dompet berwarna merah jambu itu. Mata Nita membesar lalu menatapnya bergantian.
“Dimana kamu menemukan dompet saya?”tanya Nita lagi.
Kali ini ada keriangan di nada suaranya. Roni lalu menjelaskan segala sesuatunya. Mereka akhirnya mengobrol tentang segala hal. Tentang Nita, tentang Roni, alasan keduanya kuliah di ICL, kebingungan Nita ketika ia menyadari dompetnya hilang, tapi dia tidak mengatakan alasan mengapa dia naik ke menara hari itu. Roni lupa menanyakannya. Dan dia tidak mau menanyakannya. Yang dia tahu adalah wajah gadis itu ada di depannya. Dia tidak akan repot-repot menanyai Nita mengapa dia di menara Ratu kemarin.
Sejak saat itu mereka semakin dekat. Roni bisa melupakan kerinduaan pada keluarganya dengan berbagi rasa dengan Nita. Roni juga melupakan rasa rindunya untuk Ayu, tunangannya sejak setahun yang lalu. Yang ada di hatinya sekarang hanyalah perasaan bahagia karena bisa dekat dengan Nita, gadis manis berrambut ombak sepunggung.
Nita adalah gadis yang bebas mencurahkan isi hatinya. Dia tidak segan mengkritik pendapat-pendapat Roni jika mereka sedang berdiskusi tentang suatu hal. Kelugasan dan kecantikan Nita membuat diri Roni tertawan pada jurang cinta. Hatinya dipenuhi oleh Nita dan Nita. Jika sehari tidak bertemu, Roni merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya hari itu. Hape dan facebook bahkan tidak bisa menuntaskan dahaganya akan kehausannya menatap wajah Nita.
Bahkan kuliahnyapun tidak terlalu menarik hatinya lagi. Karena keenceran otaknya saja, setiap ujian dia mendapat A, paling jelek B. Hanya saja saat ujian praktek, dia salah mendiagnosa dan mendapat teguran keras dari Roger Moore, asisten dosennya.
” Jika dalam kenyataan kamu salah dan mengakibatkan kematian seseorang, apa yang akan kamu lakukan? Coba lebih fokus dan teliti lagi Tuan Roni. Menjadi dokter mainannya adalah nyawa, kau tahu itu?” tegur Roger Moore.



Roni mengerti menjadi dokter besar tanggung jawabnya. Dan dia juga mengerti seharusnya dia lebih fokus pada kuliahnya lagi. Tapi Nita terlalu dicintainya. Dia tidak kuasa berpisah dengannya walau seharipun. Nita menyambut perasaan Roni dengan kadar yang sama. Dia jatuh cinta pada Roni ketika merasa Roni mencintainya. Dan cinta itu sangat berharga dari apapun. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
Dan atas nama cinta, pada suatu malam berhujan, Nita memberikan mahkotanya yang paling berharga dalam dirinya untuk Roni. Dan pengorbanan itu disambut dengan rasa cinta dan sayang yang semakin mendalam dari Roni. Mereka selalu berdua kemana-mana. Tak terpisahkan. Yang tengah dimabuk cinta memang tidak pernah perduli pada sekelilingnya. Tidak pada nilai ujian keduanya yang anjlok semester itu, tidak juga pada hujan yang seakan tidak akan berhenti turun dari langit London.
Hingga surat itu menyuruhnya pulang ke Jakarta. Ayahnya masuk rumah sakit lagi. Kali ini lebih parah. Dia harus pulang. Hati Roni mencelos. Hatinya terbagi antara pulang ke Jakarta atau menemani Nita. Namun tiket pulang terselip di surat itu. Dan tanggalnya besok. Dia harus berkemas-kemas dan memberitahu pihak kampus soal itu. Maka malam itu, Roni memeluk Nita lebih erat dan lebih lama dibanding sebelumnya. Nalurinya seakan merasa bahwa ini adalah pelukan terakhir mereka. Namun Roni tidak kuasa untuk mengatakan masalah surat dan ayahnya pada Nita. Tidak bisa. Lidahnya kelu tiba-tiba jika dia hendak berbicara tentang kepulangannya ke Jakarta. Jadi, dia hanya bisa memeluknya lebih erat sekarang. Saat dia masih disini. Saat mereka masih ada dalam alam mimpi.
Setelah kebersamaan mereka itu, keesokan harinya Roni berada dalam pesawat yang membawanya ke Jakarta. Ada tangis, ada penyesalan karena tak kuasa mengatakan yang sebenarnya pada kekasihnya itu. Walaupun dia tahu, dia akan menghancurkan hati seorang wanita yang teramat mencintainya. Roni telah memilih Ayahnya. Namun di hatinya terselip tekad. Setelah urusan dengan sang Ayah selesai, ia akan mencari Nita. Akan menikahinya. Akan bersama dengannya selama sisa hidupnya. Airmata begulir dari ujung matanya. Satu persatu.
4 tahun kemudian
Hujan turun membasahi tanah Jakarta. Gerimis itu tidak mampu mendinginkan perasaan seorang pemuda yang tengah remuk redam. Pemuda itu bersembunyi di balik pohon Mahoni yang ada di halaman Rumah Sakit Jiwa Polri. Jubah putihnya ternoda cipratan lumpur yang tercipta karena genangan air hujan. Roni menatap gadis yang sedang duduk itu. Gadis manis itu berambut panjang berombak sepunggung. Mata besarnya menatap kosong pada langit biru. Semua itu membuat hati Roni tercabik-cabik sakit. 

“Dulu gadis itu miliknya. Dulu gadis manis itu selalu berada disisinya. Kata-katanya yang lembut dan menenangkan, pernah terngiang di telinganya. Dan rambut indah itupun pernah dibelainya.”batin Roni. 
 Mata Roni kini berkaca-kaca. Akhirnya satu tetes airmata itu bergulir dipipinya kemudian jatuh ke rerumputan, bersatu dengan tetesan air hujan sore itu.(suryani rinz)

Sabtu, 15 Maret 2014

APA KATA FOTO SELFIE ANDA?


               Bukan hal yang baru bagi orang-orang yang menarik nafas di abad 21 tentang kecanggihan teknologi. Mau tahu suatu daerah tinggal hidupkan GPS. Ingin mengobrol dengan saudara, suami, istri yang jauh disana tidak hanya bisa dilakukan dengan mendengar suaranya saja, tapi juga seraya melihat orangnya! Yah, dengan Skype. Mau eksis di dunia maya, ada Facebook dan Twiter yang memang sudah jadi kelumrahan buat kita.
Nah, dengan banyaknya foto selfie yang diunggah di Facebook atau Twiter, sedikit banyak bisa membuka sikap diri kita sebenarnya. Mau tahu? Check this out!!

1. Selfie dengan posisi wajah miring
 posisi ini menunjukkan kepedean sang pemuat foto. Dirinya tahu jika dirinya menarik dan tampan atau cantik. Orang yang selalu foto selfie dengan posisi ini menunjukkan juga bahwa dirinya fotogenic dan telah menghabiskan waktu lama untuk mencari pose yang pas dan enak dilihat. Biasanya orang yg suka selfie ini orangnya dewasa dan enak diajak ngobrol atau diskusi apa saja karena wawasannya yang luas.



2. Selfie dengan posisi wajah melihat ke kanan( tak melihat kamera)
Posisi ini menunjukkan jika orang ini berhati lembut, namun terkadang egois, dan suka menarik perhatian secara diam-diam. Orang ini sadar diri jika posisinya yang dipilihnya akan menimbulkan banyak pertanyaan. Dalam dirinya terdapat sikap kalem, tidak tergesa-gesa, lambat namun pasti.



3. Selfie dengan posisi wajah lurus menatap pada kamera
Posisi ini menunjukkan jika orang ini memiliki sikap terus terang, apa adanya,dan terbuka. Sikapnya yang supel membuat orang yang selalu membuat selfie dengan posisi ini, dalam dunia nyata sangat disukai teman-temannya.


4. Selfie dengan menutupi mulut atau memonyongkan mulut
Selfie orang yang selalu menutupi atau memonyongkan mulutnya biasanya sering dilakukan oleh cewek abg. Posisi selfie yang ini walau terlihat menunjukkan kepercayaan diri yang besar, namun ternyata yang suka berpose selfi seperti ini cenderung merupakan remaja polos, anak mama, rajin dan pemalu.

 
5.   Selfie dengan mata menatap ke atas
Selfie ini menunjukkan pembuat foto ini tidak pede dengan dirinya. Ada sesuatu yang hendak disembunyikannya dari orang lain. Survey membuktikkan bahwa orang yang sering ber-selfie ini cenderung pemalu.
Makannya hati-hati mengunggah foto selfie anda. Wallahu alam.(rinz)

SAMPAH LAGI, SAMPAH LAGI







Sampah adalah sisa dari pemanfaatan suatu produk.Sampah dibagi ke dalam dua jenis yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah anorganik dibagi lagi ke dalam sampah kertas dan sampah plastik. Biasanya sampah anorganik ini diusahakan untuk digunakan kembali atau didaur ulang.
Yang menjadi masalah bukanlah kertas pembungkus gorengan atau plastik bekas es yoghurt. Tapi yang paling memusingkan adalah sampah pempers atau popok siap pakai.
Ada mitos, jika sampah pempers dibakar, maka si pemakai pempers, pasti akan merasa terbakar di bagian  selangkangan. Entah benar atau tidak silakan coba!
Pempers terbuat dari bahan kertas yang berasal dari pohon. Terbayang berapa banyak pohon yang ditebang untuk menghasilkan ribuan pempers dari berbagai ukuran. Kalau misalnya tinja yang  merupakan limbah organik, maka langkah apa yang paling tepat untuk membersihkan sampah pempers berikut tinjanya?


Banyak orang awam yang karena perduli kebersihan, membersihkan rumahnya dari sampah, memasukkannya ke dalam plastik lalu membuangnya ke sungai! Banyak yang tidak perduli dan tak mau tahu akan kemanakah sampah-sampah itu hanyut. Jika seorang berpikir bahwa hanya dirinya ini yang membuang sampah ke sungai, bagaimana jika 1000 orang berpikir yang sama? 1000 sampah x 30 hari x 365 hari. Berpa kubik sampah yang kita hasilkan dan dibuang ke sungai? Pantas saja banyak banjir melanda perkotaan. Tinggi banjir bahkan pernah mencapai 2 meter dan menghanyutkan barang-barang, minimal merusakkan barang elektronik. Jika sudah begitu, kerugian yang dialami lebih besar.
Sekarang jika sampah organik kita pisahkan dalam bak sampah sendiri, kita bisa membuat pupuk kompos sendiri. Pupuk kompos bisa menyuburkan tanaman. Karena bukan terbuat dari bahan kimia, maka tanaman kita akan lebih subur dan yang pasti aman dikonsumsi karena pupuknya pupuk organik.
Sekarang jika kita telah memisahkan sampah dan memilah-milahnya tergantung jenisnya, tapi ternyata sampah yang tercecer tetap saja ada? Maka pilihan yang terbaik adalah membakarnya. Pembakaran menghasilkan gas CO2, monoksida danlain-lain. Pembakaran sampah yang banyak bisa merusak ozon. Tapi jika kita rajin menanam pohon dan tanaman lainnya di pekarangan kosong milik kita, maka oksigen yang dihasilkan tanaman akan mengganti kerusakan yang disebabkan pembakaran  sampah yang kita lakukan . Jangan lupa untuk memilah botol plastik dan strorofoam bekas mengemas makanan di sebuah tempat tersendiri. Karena di tangan orang kreatif, botol plastik dan strorofoam bekas bisa di daur ulang menjadi benda yang menarik dan berdaya jual. Wallahu alam.(suryani rinz)